Templates by BIGtheme NET
Home » Kliping Media » Setelah 15 Tahun, Konflik Gajah dan Manusia di Aceh Belum Berakhir

Setelah 15 Tahun, Konflik Gajah dan Manusia di Aceh Belum Berakhir

Warga mengamati rumahnya yang dirusak kawanan gajah liar di Desa Seumanah Jaya, Rantoe Peureulak, Aceh, 19 November 2015. 16 unit rumah serta ratusan hektar perkebunan warga dirusak kawanan gajah liar. ANTARA/Syifa Yulinnas

Warga mengamati rumahnya yang dirusak kawanan gajah liar di Desa Seumanah Jaya, Rantoe Peureulak, Aceh, 19 November 2015. 16 unit rumah serta ratusan hektar perkebunan warga dirusak kawanan gajah liar. ANTARA/Syifa Yulinnas

Kisah gajah masuk perkampungan warga bukan hal baru di Aceh. Selama 15 tahun terakhir konflik gajah dan manusia terus terjadi di Desa Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Saat itu, puluhan gajah liar masih berkeliaran di pinggiran desa dan belum “menginvasi” areal perkebunan milik warga.

Serbuan gajah mulai terjadi pada 2007. Sejak saat itu pula, warga semakin waspada. Sebab, harapan panen karet dan sawit bisa pupus jika puluhan ekor gajah mengobrak-abrik perkebunan. Gubuk-gubuk di dalam perkebunan juga hancur diserang gajah.

“Tak ada harapan lagi, gubuk itu hancur dan warga harus bersabar menunggu gajah pergi ke daerah lainnya,” kata Ketua Pemuda Seumanah Jaya, Aceh Timur, Junaidi Ibrahim kepada Kompas.com, Kamis (12/11/2015).

Kejadian paling tragis terjadi di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime, Kabupaten Bener Meriah sepekan lalu.

Ratusan warga terpaksa mengungsi ke kantor Camat Pintu Rime, setelah kampung mereka diduduki hewan yang dalam bahasa Aceh disebut Po Meurah itu.

Mereka menduduki desa selama sepekan dan setelah gajah-gajah itu pergi, barulah warga berani pulang untuk menata sisa-sisa kehancuran akibat serbuan hewan besar itu.

Junaidi menyebutkan, untuk melindungi tanaman dari amukan gajah, sebagian warga memasang jerat yang dialiri listrik.

Gajah yang tewas di Desa Seumanah Jaya Aceh Timur itu pun diduga karena tersangkut di jerat yang dialiri listrik.

Sebelumnya, staf Komunikasi World Wildlife Fund (WWF) Aceh, Chik Rini menyebutkan gangguan gajah itu disebabkan habitat hewan itu yang terganggu.

Sejumlah hutan berubah fungsi menjadi lahan perkebunan sawit.

“Sepanjang tahun ini dua kali gajah turun ke pemukiman di Bener Meriah. Ini sudah sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Baik Junaidi dan Chik Rini berharap persoalan konflik manusia dan gajah segera teratasi.

“Gajah juga butuh makan. Jika terus begini, maka akan semakin banyak korban, dari kebun, rumah dan tidak menutup kemungkinan ada korban jiwa,” kata Junaidi.

Sementara itu, anggota DPD RI asal Aceh Sudirman yang akrab disapa Haji Uma mendesak pemerintah segera mencari solusi mengatasi konflik gajah dan manusia itu.

“Jangan sampai rakyat terus bilang sampai kapan konflik gajah ini berakhir?” pungkas Haji Uma. [kompas.com/Jumat, 13 November 2015]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful