Templates by BIGtheme NET
Home » Activity » WWF Fasilitasi Pelatihan Energi Berkelanjutan Untuk Pemuda

WWF Fasilitasi Pelatihan Energi Berkelanjutan Untuk Pemuda

Acehinsight.com – Sekitar 50 pemuda/i yang berasal dari 8 mukim di Aceh Besar dan lintas komunitas mengikuti pelatihan “Energi Berkelanjutan Untuk Pemuda” yang diselenggarakan oleh WWF Indonesia Northern Sumatra Program bersama Aceh Geothermal Forum (AGF), pada 3-4 Maret 2017 di Hotel Sulthan, Banda Aceh.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut, bertujuan untuk mensosialisasikan tentang energi berkelanjutan pada generasi muda serta merumuskan kegiatan untuk penyadartahuan energi berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Project Leader WWF Indonesia Northern Sumatra Program, Dede Suhendra mengatakan bahwa krisis energi terjadi hampir merata di seluruh Indonesia, termasuk Aceh.

“Saat ini penggunaan listrik di Aceh masih bergantung pada supply dari provinsi Sumatra Utara. Aceh sendiri menggunakan 35.000 MW dalam pemakaian energi. Oleh karena itu, menerapkan energi berkelanjutan (ramah lingkungan) sangat dibutuhkan,” ungkap Dede Suhendra.

Menurut Dede, saat ini Aceh sudah mulai menggunakan energi berkelanjutan. Ada beberapa daerah di Aceh yang mulai menerapkan energi berkelanjutan ini seperti Aceh besar, Sabang, dan lain-lain.

“Pemerintah Aceh juga punya program PLTA yaitu di Peusangan yang memanfaatkan air. Harapan kita kawan-kawan akan membantu dalam melaksanakan hal ini, baik itu dari komunitas maupun kawan-kawan dari perwakilan mukim,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Iklim dan Energi World Wildlife Fund (WWF) Indra Sari Wardhani mengungkapkan, bahwa Indonesia harus terus mendorong pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). “Indonesia perlu memiliki target yang ambisius dan konsisten untuk mengembangkan energi terbarukan,” ungkap Indra Sari saat berada di Banda Aceh.

Menurut Indra Sari, ada beberapa energi terbarukan yang bisa dikembangkan dalam masyarakat, seperti mikrohidro, panel surya, biogas dan biomassa. Ini dilakukan untuk memberikan akses energi bersih untuk masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.

“Listrik bagi masyarakat dunia seperti juga bagi bangsa Indonesia telah menjadi kebutuhan vital masyarakat modern dan juga bahan bakar roda pembangunan. Listrik, bahkan, dijadikan tolok ukur majunya suatu peradaban,” ujarnya.

Hanya saja, lanjut Indra Sari, penyediaan dan pemanfaatan listrik di Indonesia masih banyak bergantung pada energi fosil terutama minyak bumi dan produk turunannya.

“Energi fosil bersifat tidak terbarukan sehingga bila terus dieksploitasi, cadangannya akan menipis dan mungkin akan habis. Saat ini saja Indonesia sudah bisa dikategorikan sebagai negara yang lebih banyak mengimpor minyak dibandingkan mengekspornya,” tuturnya.

Terakhir Indra Sari menuturkan, bahwa ada banyak bentuk kepedulian masyarakat terhadap penanggulangan perubahan iklim, terutama melalui upaya penghematan energi dari penggunaan listrik.

“Sekecil apa pun kontribusi yang bisa dilakukan, akan memberikan perubahan yang positif bagi ketahanan energi, pembangunan ekonomi, serta kelangsungan hidup di bumi,” ungkap Indra Sari Wardhani.

Hal yang sama juga diutarakan oleh Achmed Shahram Edianto, Ring of Fire Program Coordinator WWF Indonesia, bahwa semangat percepatan pengembangan potensi panas bumi harus dilakukan mengingat potensi yang besar namun belum tergarap maksimal.

“Dari 17 titik panas bumi di Aceh, energi geotermal yang terdapat di Seulawah Agam memiliki potensi yang sangat besar 185 MW. Apabila energi tersebut diubah menjadi energi listrik, maka akan dapat menangulangi beban listrik untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar,” ujarnya.

Achmed juga menambahkan, pemanfaatan energi panas bumi sangat ramah lingkungan karena dampak emisi karbon yang timbulkan sangat rendah. “Dengan pemanfaatan energi panas bumi, pemerintah Aceh dapat berkontribusi secara signifikan bagi perlindungan alam dan perubahan lingkungan dan secara tidak langsung pemerintah telah mendukung target penurunan emisi karbon,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan energi fosil sepeti batu bara, minyak bumi dan gas, panas bumi memiliki emisi karbondioksida (CO2) yang terendah hanya 0,2 dari batu bara, kata Achmed Shahram Edianto.

Selain itu juga, pemanfaatan energi panas bumi bisa berlangsung dalam jangka yang panjang sebagaimana sudah dibuktikan oleh beberapa negera yang menerap teknologi panas bumi sebagai energi alternatif.

Namun ia mengharapkan pengembangan panas bumi harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat setempat, khususnya di sekitar Energi Panas Bumi Seulawah Agam.

Seperti diketahui, kegiatan pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut, dilaksanakan dalam format Focus Group Discussion (FGD) untuk sosialisasi, penyampaian materi dan mendiskusikan rumusan kegiatan. Selama kegiatan, peserta juga akan dibekali dengan materi-materi terkait energi berkelanjutan dan pengembangan kapasitas diri.

WWF Indonesia berinisatif untuk melaksanakan pelatihan peningkatan kapasitas terkait energi berkelanjutan bagi pemuda dan mahasiswa. Hal ini diharapkan agar mereka dapat memahami isu energi berkelanjutan dan dukungan berupa rumusan aktifitas yang dapat mendukung terwujudnya pembangunan berkelanjutan di Aceh, Indonesia.

Beberapa pemateri yang hadir dalam pelatihan”Energi Berkelanjutan Untuk Pemuda” diantaranya ialah Indra Sari Wardhani (Climate and energy manager WWF Indonesia) dengan pembahasan “Energi dan Perubahan Iklim”, Achmed Shahram Edianto (Ring of Fire Program Coordinator WWF Indonesia) dengan pembahasan “Geothermal dan Potensinya di Aceh”, Fahmi (Koordinator Aceh Geothermal Forum) dengan pembahasan “Peran AGF untuk pemberdayaan masyarakat disekitar Geothermal Seulawah”, Chik Rini (Communication Officer WWF Indonesia Northern Sumatra Program) dengan pembahasan “Kampanye Hemat Energi”, Komunitas Iloveaceh dengan pembahasan “Kampanye Linkungan Lewat Sosial Media” serta Chaidir Mahyuddin (Fotografer) dengan pembahasan “Fotografer Lingkungan”.

Amatan Acehinsight.com, para peserta yang mengikuti pelatihan ini diantaranya berasal dari pemuda mukim Lamkabeu, Gunong Biram, Krueng Raya, Lamteuba, Tanoh Abee, Seulimum, Lampanah dan pemuda mukim Glee Yeung.

Selain pemuda dari 8 mukim di Aceh Besar, beberapa komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa juga ikut dalam pelatihan ini diantaranya Earth Hour Aceh, Forum Kolaborasi Komunitas, CIMSA, Duta Wisata Aceh Besar (Duta Rayeuk), KOFAKAHA, Aceh Documentary, I Love Aceh, Agam Inong Blogger, Pramuka dan Duta Lingkungan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful